Ringkasan Minhajul Muslimin (Bab 4 : Muamalat)

Pembahasan Pertama: Jual-Beli

Point Pertama: Hukum Jual-Beli dan Rukunya

Jual-beli disyariatkan dalam Islam untuk saling melengkapi kebutuhan manusia, sebahagian mereka atas sebahagian lainna. Dalam Al-Quran Al-Karim dijelaskan:

“Dan Allah menghalalkan perdagangan dan mengharamkan riba.” [Al-Baqarah: 275]

Rasulullah Saw bersabda:

“Dua orang yang mengadakan jual beli berada dalam khiyar, sebelum keduanya berpisah.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari]

Sedangkan rukun dalam jual beli adalah beberapa hal:

a-Penjual

b-Pembeli

c-Barang

d-Shighat akad

e-Keridhoan kedua belah pihak

Point Kedua: Syarat sah dalam perdagangan dan syarat tidak sah

1)Syarat sah

Jikalau disyaratkan bentuk barang tertentu, kemudian permintaan itu tidak sesuai dengan yang diharapkan, maka syarat itu sah dan perdagangan bisa dibatalkan. Begitu juga dengan syarat mamfaat khusus, seperti penjual hewan ternak yang mensyaratkan agar ia diantarkan ke rumahnya setelah jual beli dan sejenisnya.

2)Syarat tidak sah

a-Mengumpulkan dua buah syarat kontradiksi dalam satu akad perdagangan.

b-Syarat yang menghilangkan mamfaat utama barang dagangan tersebut, seperi mensyaratkan agar pembeli itu tidak menjual barangnya pada siapapun selama-lamanya.

c-Syarat batil yang bertentang dengan ajaran Syara’.

Point Ketiga: Khiyar dalam perdagangan.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam khiyar ini:

a-Selama pedagang dan pembeli masih berada dalam satu majelis dan belum berpisah, maka keduanya mendapatkan hak khiyar. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw sebelumnya:

“Dua orang yang mengadakan jual beli berada dalam khiyar, sebelum keduanya berpisah.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari]

b-Jikalau salah satu pihak mensyaratkan masa tertentu untuk melakukan khiyar dan keduanya sepakat, maka keduanya berada dalam khiyar sampai jangka waktu yang disepakati habis. Rasulullah Saw bersabda:

“Kaum muslimin berada dalam syarat yang mereka buat.” [Diriwayatkan oleh Abu Daud]

c-Jikalau terjadi penipuan yang nyata, maka pembeli bisa melakukan Faskh (membatalkan akad jual beli)

d-Jikalau penjual memoles barang dagangannya, sehingga yang buruk tampak bagus dan yang jelek tampak menarik, kemudian pembeli tertipu, maka ia berhak mendapatkan khiyar antara meneruskan perdagangan atau membatalkannya.

e-Jikalau dalam barang perdagangan itu ada aib yang mengurangi harganya, dan sama sekali tidak diketahui oleh pembeli, sehingga ia ridho ketika akad, maka ia berhak mendapatkan khiyar antara meneruskannya atau menghentukannya.

f-Jikalau kedua belah pihak berselisih pendapat mengenai jenis barang tersebut, maka masing-masing pihak bersumpah. Setelah itu keduanya mendapatkan khiyar; apakah akan melanjutkan perdagangan atau tidak.

Point Keempat: Jenis-jenis perdagangan yang dilarang

1-Jual beli barang sebelum berada di tangan. Rasulullah Saw bersabda, “Jikalau engkau membeli sesuatu, maka janganlah menjualnya sampai engkau memegangnya.” [Diriwayatkan oleh Imam Ahmad]

2-Membeli barang yang sudah ditawar muslim lainnya. Rasulullah Saw bersabda, “Jangan sebahagian kalian membeli sesuatu (yang sudah ditawar) sebahagian lainnya.” [Diriwayatkan oleh Muslim]

3-Ba’i An-Najsy, yaitu seseorang yang menawar suatu barang bukan untuk membelinya, akan tetapi hanya sekedar untuk menaikkan harga, agar ada orang lain yang menawar lebih tinggi. Rasulullah Saw bersabda, “Janganlah kalian saling melakukan Ba’i An-Najsy.” [Diriwayatkan oleh Abu Daud]

4-Menjaul barang yang haram dan najis. Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt mengharamkan perdagangan khamar, bangkai, babi dan berhala.” [Diriwayatkan oleh Abu Daud]

5-Ba’i Al-Gharar, yaitu perdagangan yang ada unsur penipuannya, seperti menjual ikan di dalam air, menjual janin binatang ternak di dalam perut induknya, dan sebagainya. Rasullah Saw bersabda:

“Janganlah kalian membeli ikan di dalam air, karena itu adalah penipuan.” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqy]

6-Bai’atan Fi Ba’ah (dua perdagangan dalam satu perdagangan). Misalnya, Anda berkata kepada pembeli yang akan membeli barang Anda, “Saya menjualnya kepadamu seharga satu juta tunai, atau dua juta sampai batas waktu tertentu.” Kemudian keduanya melanjutkan perdagangan tanpa menjelaskan jenis mana disetujui kedua belah pihak.

7-Ba’i Al-‘Urbun, yaitu seorang laki-laki membeli sesuatu atau mekredit kenderaan, kemudian ia mengatakan, “Saya memberikanmu uang sebanyak satu dinar. Jikalau saya tidak jadi mengambil barangnya, maka silahkan engkau mengambil uangnya.”

8-Menjual sesuatu yang tidak dimilikinya. Rasulullah Saw bersabda, “Janganlah menjual sesuatu yang tidak engkau miliki.” [Diriwayatkan oleh Abu Daud]

9-Menjual hutang dengan hutang, karena sama dengan  menjual sesuatu yang tidak ada. Misalnya, Anda berhutang barang pada seseorang sampai jangka waktu tertentu, kemudian Anda menjual lagi barang itu pada orang lain.

10-Ba’i Al-‘Inah, yaitu Anda menjual sesuatu kepada orang lain dengan harga tertentu, kemudian Anda kembali membeli darinya dengan harga yang lebih murah.

11-Ba’i Al-Hadhir Li Al-Bady, yaitu jikalau orang yang berada di pedalaman akan menjual barangnya ke kota dengan harga barang pada hari ini, kemudian dicegat oleh orang kota dengan mengatakan, “Tinggalkan barangmu disini. Saya akan menjualkannya untukmu sehari atau dua hari lagi dengan harga yang lebih mahal,”; padahal orang-orang membutuhkannya.

12-Syira’ Mina Ar-Rukban, yaitu ketika Anda mendengar berita tentang kafilah dagang yang baru datang dari pedalaman, kemudian Anda mencegatnya di pintu gerbang dan membelinya disitu. Setelah itu Anda membawanya ke pasar kota dan menjualnya sesuka hati Anda.

13-Ba’i Al-Musharrah, yaitu menggemukkan binatang ternaik, baik sapi, domba, kambing dan sebagainya dengan air. Ini adalah bentuk penipuan terhadap para pembeli yang diharamkan oleh Syara’.

14-Perdagangan ketika azan berkumandang untuk shalat Jumat. Dalam Al-Quran Al-Karim dijelaskan:

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” [Al-Jumuah: 9]

15-Ba’i Muzabah atau Muhaqalah, yaitu Anda menjual ruthab (kurma basah) yang masih di batangnya dengan kurma yang sudah dipetik, atau Anda membeli anggur yang masih ada di tangkainya dengan Zabib.

16-Ba’i Tsunya, yaitu Anda menjual sesuatu dengan pengecualian bagiannya yang tidak mungkin dipisahkan. Misalnya, Anda menjual kebun, kemudian Anda mengecualikan pohon yang tidak jelas jenisnya.

Point Kelima: Menjual Pohon yang sudah berbuah

Jikalau Anda menjual pohon yang sudah berbuah, maka buahnya bagi penjualnya, kecuali jikalau pembelinya mensyaratkan buahnya dalam akad jual beli. Rasulullah Saw bersabda:

“Barangsiapa yang menjual kurma berbuah, maka buahnya untuk penjualnya, kecuali disyaratkan oleh pembeli.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari]

Point Keenam: Riba

1)Pengertian riba dan hukumnya

Riba artinya adalah tambahan dalam harta. Jenisnya ada dua, yaitu Riba Fadhl dan Riba Nasiah. Riba Fadhl adalah menjual sesuatu dengan sejenisnya, yang takarannya tidak sama. Dan ia masuk dalam kategori barang-barang yang bisa menyebabkan terjadinya riba dalam perdagangan. Misalnya, menjual kurma sebanyak satu liter dengan kurma sebanyak satu liter setengah.

Sedangkan Riba Nasiah sendiri terbagi dua:

a-Riba Jahiliyyah, yaitu seseorang berhutang kepada Anda sampai waktu tertentu, kemudian ketika habis jangkanya, ia tidak juga mampu membayarnya. Anda mengatakan kepadanya, “Engkau harus melunasinya sekarang atau saya tambah.” Artinya, disini ada bunganya dari pembayaran seharusnya sebagai kompensasi dari jangka waktu yang ditambahkan.

b-Riba Nasiah, yaitu menjual sesuatu yang bisa menyebabkan terjadinya riba dengan sejenis lainnya secara tidak tunai. Misalnya, Anda menjual seliter beras dengan seliter gandum sampai masa yang ditentukan.

Segala jenis riba diharamkan dalam Islam, baik melalui firman Allah Swt maupun sabda Rasulullah Saw. Dalam Al-Quran Al-Karim dijelaskan:

“Dan Allah menghalalkan perdagangan dan mengharamkan riba.” [Ali Imran: 13]

Rasulullah Saw bersabda, “Allah Swt melaknat orang yang memakan riba, yang memberinya, dua orang saksinya dan penulisnya.” [Diriwayatkan oleh Imam Ahmad]

2)Barang-barang yang bisa menyebabkan riba

Semuanya terangkum dalam sabda Rasulullah Saw, “Emas dengan emas, perak dengan perak, padi dengan padi, gandum dengan gandum, kurma dengan kurma, garam dengan garam, semisal dan sama, serta lansung akad. Jikalau jenisnya berbeda, maka juallah sesuai dengan keinginan kalian; asalkan lansung.” [Diriwayatkan oleh Muslim]

3)Makanan yang tidak menyebabkan riba

Buah-buahan dan sayur-sayuran tidak menyebabkan terjadinya riba dalam perdagangan, karena ia tidak disimpan, tidak ditakar dan tidak pula ditimbang, serta tidak pula bagian dari makanan pokok. Dan lebih utama lagi, ia tidak masuk dalam kategori hadits yang disampaikan oleh Rasulullah Saw.

Point Ketujuh: Salam

Pengertian salam adalah menjual sesuatu yang berada dalam tanggungan dengan cara menggambarkan detail-detailnya. Misalnya, Anda ingin membeli sesuatu yang tidak ada di hadapan Anda. Hanya saja, penjualnya menggambarkannya kepada Anda sedetail-detailnya, mulainya dari bentuknya, ukurannya dan sebagainya. Ia berjanji akan memberikan barangnya pada tanggal sekian. Kemudian, Anda memberikannya uang agar bisa mendapatkannya pada tanggal yang sudah disepakati.

Jenis perdagangan ini hukumnya boleh-boleh saja, sesuai dengan sabda Rasulullah Saw, “Barangsiapa yang melakukan salaf (salam) dalam sesuatu, maka lakukanlah dengan takaran yang jelas, timbangan yang jelas, dan jangka waktu yang jelas.” [Diriwayatkan oleh Muslim]

Jadi, secara umum ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam akadnya:

a)Harganya dibayarkan secara tunai

b)Barangnya dijelaskan secara sempurna dan lengkap, baik jenis, bentuk, ukuran dan sebagainya.

c)Waktu harus jelas dan berjangka, misalnya lima belas hari dan sebagainya.

d)Nilai jualnya harus dibayarkan dalam majelis akad.

Point Kedelapan: Syuf’ah

Pengertiannya, seseorang yangberserikat atau berkongsi membeli bagian kongsinya yang dijualnya sesuai dengan harganya. Ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Saw menetapkan Syuf’ah dalam segala sesuatu yang bisa dibagi.[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari]

Jikalau sesuatu itu tidak bisa dibagi, maka hukum syuf’ah tidak berlaku baginya, seperti pakaian, hewan dan lain-lain. Ini adalah salah satu bentuk muamalah yang dianjurkan oleh Islam demi menjaga ukhuwwah di antara orang-orang yang terlibat dalan suatu perserikatan.

Point Kesembilan: Iqalah

Pengertiannya, membatalkan perdagangan dan meninggalkannya, mengembalikan uangnya kepada pembalinya dan barang kepada penjualnya; jikalau salah satu dari keduanya merasa menyesal melakukan jual beli atau salah satunya.

Hukumnya dibolehkan jikalau ada salah satu pihak yang menuntut penerapannya; sesuai dengan sabda Rasulullah Saw:

“Barangsiapa yang melakukan Iqalah terhadap muslim lainnya dalam perdagangan, maka Allah Swt akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya.” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqy]

Pembahasa Keempat: Beberapa Jenis Akad

Point Pertama: Serikat

Pengertian, dua orang atau lebih bersama-sama mengumpulkan uang yang merupakan haknya untuk dikembangkan, baik dengan perdagangan, atau pertanian dan sebagainya. Masalah ini dijelaskan dalam beberapa ayat Al-Quran, di antaranya:

“Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain.” [Shad: 24]

Rasulullah Saw bersabda:

“Tangan Allah Swt bersama dua orang yang berserikat; selama keduanya tidak saling mengkhianati.” [Diriwayatkan oleh Ad-Dar Quthny]

Secara umum, serikat memiliki beberapa jenis:

1)Serikat ‘Inan

Dua orang atau lebih berserikat mengumpulkan harta sebagai modal dan mengembangkannya, dan keuntungan yang didapatkan dibagi sesuai dengan saham setiap anggota; sebagaimana juga kerugian dibagi rata. Kemudian, semua anggota berhak melakukan sesuatu yang mengandung maslahat bagi perserikatan.

Ada beberapa syarat sah yang harus diperhatikan dalam serikat jenis ini:

a-Serikat ini dilakukan di antara kaum muslimin.

b-Modal harus jelas, dan saham setiap peserta juga harus jelas, agar tidak ada kekacauan dan perselisihan di saat pembagian keuntungan.

c-Keuntungan dibagi secara rata sesuai dengan saham masing-masing

d-Modalnya haruslah berupa uang. Jikalau ada yang berupa barang, maka harus ditentukan hartanya dengan uang, agar ada kejelasan dalam serikat.

e-Bagian pekerjaan sesuai dengan saham yang dipegangnya. Misalnya, orang yang sahamnya segini, maka tugasnya begini.

f-Jikalau salah seorang anggota serikat meninggal, maka akad serikatpun batal.

2)Serikat Abdan

Doa orang atau lebih berserikat dengan badan mereka untuk membuat sesuatu. Dan apa yang mereka hasilkan harus dibagi berdua secara merata, sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak. Hukumnya boleh-boleh saja; sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Daud, bahwa Abdullah, Saad dan Ammar berserikat dalam harta kaum musyrikin yang mereka dapatkan pada saat perang Badar. Ammar dan Abdullah tidak mendapatkan apapun, sedangkan Saad mendapatkan dua orang tawanan. Kemudian Nabi Saw memperserikatkan mereka terhadap apa yang didapatkan oleh Saad.

3)Serikat Wujuh

Dua orang atau lebih berserikat membeli suatu barang, kemudian keduanya bersama-sama menjualnya. Keuntungan yang didapatkan dari perdagangan itu adalah untuk keduanya; sebagaimana keduanya juga sama-sama dibagi kerugian.

4)Serikat Mufawadhah

Jenis ini lebih luas cakupannya dari serikat ‘Inan, Abdan dan Wujud, karena juga mencakup Mudharabah.

Point Kedua: Mudharabah

Seseorang memberikan hartanya atau uangnya kepada orang lain untuk diperdagangkan, dan keuntungan yang didapatkan untuk keduanya sesuai dengan syarat yang dibuat dalam akad. Jikalau rugi, maka yang menanggung adalah pemilik modal, karena pekerja sudah menanggung kerugian tenaga.

Jenis Muamalah ini disyariat dalam Islam; sebagaimana terdapat dalam Ijma’ para sahabat.

Point Ketiga: Musaqah dan Muzara’ah

Memberikan bagian tertentu dari hasil pohon tertentu kepada orang yang menyiramnya dan melakukan pekerjaan-pekerjaan lain yang dibutuhkan untuk menjaganya. Hukumnya boleh-boleh saja dalam Syariat Islam, karena Nabi Saw membolehkannya dan juga dilakukan oleh para Khalifah Rasyidin.

Sedangkan Muzara’ah adalah, seorang laki-laki memberikan tanah kepada laki-laki lainnya untuk diolahnya dan ditanaminya, dan ia berhak mendapatkan bagian tertentu. Para Ulama berbeda pendapat mengenai masalah ini. Sebahagian di antara mereka membolehkannya, dan sebahagian lainnya melarangnya.

Point Keempat: Ijarah

Akad yang dilakukan untuk mendapatkan mamfaat dengan jangka waktu tertentu dan biaya tertentu. Biasanya ini dikenal dengan nama penyewaan. Hukumnya boleh-boleh saja berdasarkan dalil dari Al-Quran Al-Karim:

“Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.” [Al-Kahfi: 77]

Rasulullah Saw dan Abu Bakar pernah menyewa seorang laki-laki dari Bani Ad-Dail untuk menunjukinya jalan menuju Medinah, yaitu pada saat hijrah dan sedang dikejar-kejar oleh kafir Quraisy.

Ada beberapa syarat yang harus diperhatikan dalam akad ini:

a-Mamfaatnya jelas

b-Mamfaat itu dibolehkan secara syara’. Misalnya, menyewa mobil untuk jalan-jalan dan sebagainya.

c-Jelas bayarannya.

Point Kelima: Ju’alah

Memberikan hadiah bagi seseorang yang melakukan sesuatu yang diinginkannya, baik jelas maupun tidak. Misalnya, Anda mengatakan, “Barangsiapa yang membangunkan untukku Mesjid, maka saya akan memberinya uang sebanyak 1 M.” Artinya, orang yang bisa melakukannya, maka ia berhak mendapatkan apa yang Anda janjikan.

Hukumnya sah-sah saja; sebagaimana firman Allah Swt:

“Dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin terhadapnya.” [Yusuf: 72]

Point Keenam: Hiwalah

Memindahkan hutang dari tanggungan seseorang ke tanggungan yang lainnya. Misalnya, seseorang berhutang kepada Anda sebanyak 100 ribu, dan Anda juga memiliki hutang kepada orang lain lagi senilai 100 ribu juga. Ketika orang ketiga meminta uangnya kepada Anda, maka Anda boleh menyuruhnya untuk meminta kepada yang pertama karena nilai uangnya sama. Hukumnya boleh-boleh saja dalam syariat Islam.

Pembahasan Kelima: Beberapa Hukum Muamalat

Point Pertama: Qardh

Memberikan sejumlah uang atau materi kepada orang yang membutuhkannya, kemudian ia akan memberikan gantinya pada waktu yang sudah ditentukan. Dalam Istilah sehari-hari, Anda mengenalnya dengan sebutan peminjaman/hutang.

Hukumnya sunnah berdasarkan firman Allah Swt:

“Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan Dia akan memperoleh pahala yang banyak.” [Al-Hadid: 11]

Ada beberapa syarat yang harus diperhatikan dalam Qardh ini:

a-Kadar Qardh harus jelas, baik timbangan, atau takaran, atau nominalnya.

b-Harus jelas sifatnya, atau umurnya jikalau berbentuk hewan.

c-Barang yang di-Qardh kan harus sesuai dengan tuntutan syara’. Misalnya, kepemilikannya sah.

Point Kedua: Wadi’ah

Memberikan uang atau sejeninya kepada orang yang akan menjaganya, kemudian ia akan mengembalikannya ketika pemiliknya memintanya. Dalam masyarakat Indonesia dikenal dengan istilah penitipan.

Hukumnya sah-sah saja berdasarkan firman Allah Swt:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” [An-Nisa: 58]

Point Ketiga: ‘Ariyah

Sesuatu yang diberikan kepada orang yang akan memamfaatkannya dalam jangka waktu tertentu, kemudian ia mengembalikannya lagi. Misalnya, Anda meminjamkan pulpen kepada orang lain, kemudian setelah selesai ia mengembalikannya lagi.

Jenis Muamalat ini disyariatkan dalam Islam; sesuai dengan firman Allah Swt:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” [Al-Maidah: 2]

Point Keempat: Ghasb

Menguasai harta orang lain secara paksa dan tanpa hak. Hukumnya haram; sebagaimana firman Allah Swt dalam Al-Quran Al-Karim:

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil.” [Al-Baqarah: 188]

Pembahasan Keenam: Nikah, Thalaq, Ruju’, Khulu’, Li’an, Ila’, Zhihar dan ‘Iddah

Point Pertama: Nikah

Akad yang menyebabkan pasangan suami-istri boleh melakukan hal-hal yang diharamkan syariat sebelumnya. Ini adalah bagian dari Syariat Islam yang harus dijaga dan dijalankan oleh umat manusia; sebagaimana firman Allah Swt:

“Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat.” [An-Nisa: 3]

Ada beberapa rukun nikah yang harus Anda perhatikan:

a-Wali

Ia adalah bapak dari pihak perempuan, atau orang yang diwakilkannya, atau sesuai dengan urutan dan pewarisan. Rasulullah Saw bersabda, “Tidak ada pernikahan, kecuai dengan wali.” [Diriwayatkan oleh Abu Daud]

b-Dua orang saksi

Keduanya haruslah dari kalangan kaum muslimin yang adil; sebagaimana firman Allah Swt dalam Al-Quran Al-Karim:

“Persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu.” [Ath-Thalaq: 2]

c-Shighat Akad

Lafadz akad yang diucapkan oleh calon suami atau walinya, “Nikahkanlah diriku dengan anak perempuanmu..” Atau perkataan wali, “Saya menikahkanmu dengan anak perempuanku..” Dan calon suami menjawab, “Saya terima..”

d-Mahar

Sesuatu yang diberikan oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan, agar ia bisa menikmatinya. Hukumnya wajib berdasarkan firman Allah Swt:

“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.” [An-Nisa: 4]

Selain rukun nikah, ada juga adab dan sunnah nikah yang harus Anda perhatikan baik-baik, agar Anda benar-benar menjalankannya sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw:

a-Khitbah/melamar

b-Walimah

c-Mengumumkan pernikahan dengan gendang/ pesta.

d-Mendoakan kedua pasangan penganten, yaitu:

بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَبْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

“Semoga Allah Swt memberkahimu dalam kebaikan dan memberkahimu dalam keburukan, serta mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.”

e-Ketika pertama kali memasuki kamar penganten perempuan, maka hendaklah membaca doa ini di keningnya:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

“Ya Allah, saya memohon kebaikannya kepada-Mu dan kebaikan yang Engkau tempatkan pada dirinya. Dan saya berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan yang Engkau tempatkan pada dirinya.”

f-Jikalau Anda ingin berhubungan badan dengannya, maka bacalah doa:

بِسْمِ اللهِ, اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

“Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan, dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami.”

g-Janganlah pasangan suami-istri menyebarkan rahasia-rahasia yang ada di antara mereka, yaitu rahasia ranjang.

Selain itu, ada beberapa point penting lainnya dalam pernikahan:

1)Hak Suami-Istri

a)Hak Istri dari suaminya:

-Mendapatkan nafkah, baik makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan sebagainya.

-Berhubungan badan. Seorang suami harus menggauli istrinya minimal sekali dalam empat bulan.

-Bermalam bersamanya, minimal sekali dalam empat hari.

-Bersikap adil dalam pembagian; jikalau suami berpoligami.

-Meminta izin kepada suaminya jikalau keluar rumah.

b)Hak suami dari istrinya

-Ditaati dalam hal-hal yang Ma’ruf

-Dijaga hartanya dan kehormatannya

-Melakukan perjalanan bersamanya; jikalau ia menginginkannya.

-Istri menyerahkan dirinya kepadanya; jikalau ia menginginkannya berhubungan badan.

-Jikalau istri ingin berpuasa sunnah, maka ia harus meminta izin kepadanya.

2)Jenis-jenis pernikahan yang tidak sah dalam Syariat Islam:

a-Nikah Mut’ah, yaitu akad pernikahan dengan jangka waktu tertentu, baik lama maupun sebentar.

b-Nikah Shighar, yaitu seorang wali menikahkan anak perempuannya dengan seorang laki-laki, agar ia juga menikahkan anak perempuannya dengan dirinya.

c-Nikah Muhallil, yaitu seorang suami menthalaq tiga istrinya, sehingga ia tidak boleh ruju’ lagi kepadanya kecuali setelah istrinya menikah lagi dengan pernikahan yang shahih. Kemudian ada laki-laki lain yang menikahi istrinya, agar suaminya yang pertama bisa menikahinya lagi setelah diceraikannya.

d-Nikah Muhrim, yaitu seorang laki-laki atau perempuan menikah; sedangkan mereka dalam keadaan Ihram, baik haji maupun umrah.

e-Nikah dalam masa Iddah.

f-Nikah tanpa wali.

g-Menikahi perempuan yang bukan Ahli Kitab. Sedangkan jikalau Anda perempuan, maka Anda sama sekali tidak diperkenankan menikah dengan laki-laki Ahli Kitab maupun Musyrik/kafir.

3)Menikahi Muharramat (para wanita yang mahram)

a-Mahram abadi

-Mahram berdasarkan nasab, yaitu ibu dan nenek terus ke keturunan di atasnya, anak perempuan dan anak perempuannya terus ke keturunan di bawahnya, anak perempuan dari anak laki-laki dan anak perempuannya terus ke keturunan di bawahnya, saudara perempuan dan anak-anak perempuannya terus ke keturunan di bawahnya, anak perempuan dari saudara laki-laki terus ke keturunan di bawahnya, bibi terus ke keturunan di atasnya.

-Mahram Mushaharah (perbesanan), yaitu istri bapak dan istri kakek terus ke keturunan di atasnya, ibu istri dan neneknya terus ke keturunan di atasnya, anak perempuan istri jikalau sudah berhubungan badan dengan ibunya, cucu istri, istri anak laki-laki atau istri cucu.

-Mahram karena sepersusuan. Hukum Mahramnya sama dengan hukum Nasab.

b-Mahram Muaqqat (sementara)

-Saudara perempuan istri, sampai istrinya meninggal, atau dithalaq, atau selesai iddahnya.

-Bibi (saudara perempuan ayah) dari istri. Anda tidak boleh menikahinya sampai Anda menceraikan anak perempuan dari saudara laki-lakinya, atau selesai iddahnya atau meninggal.

-Perempuan yang berada dalam Iddah karena thalaq atau wafat, sampai selesai iddahnya.

-Istri yang dithalaq tiga kali diharamkan bagi suaminya, sampai ia menikahi laki-laki lainnya.

-Perempuan pezina sampai ia bertaubat dan kembali ke jalan Allah Swt.

Point Kedua: Thalaq

Melerai tali ikatan pernikahan, baik dengan lafadz sharih (jelas) maupun kinayah (sindiran). Hukumnya dibolehkan; selama bermamfaat untuk menghilangkat mudharat di anatra kedua pasangan suami- istri; sebagaimana firman Allah Swt:

“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.” [Al-Baqarah: 229]

1)Rukun Thalaq

a-Dilakukan oleh suami yang sah secara syara’.

b-Ditujukan kepada istri yang terikat dalam ikatan pernikahan yang sah.

c-Lafadz Thalaq, baik Sharih maupun Kinayah.

2)Jenis-jenis Thalaq:

a-Thalaq Sunny, yaitu seorang suami menthalaq istrinya dalam keadaan suci dan belum digaulinya.

b-Thalaq Bid’i, yaitu seorang suami menthalaq istrinya dalam keadaan haid, atau nifas, atau suci namun sudah digaulinya, atau dithalaqnya tiga kali dengan satu lafadz.

c-Thalaq Bain, yaitu thalaq yang menyebabkan seorang suami tidak memiliki hak ruju’ lagi kepada suaminya. Bentuknya ada lima macam:

-Ia menthalaqnya dengan Thalaq Raj’i, akan tetapi ia tidak Ruju’ lagi kepadanya sampai habis masa Iddahnya.

-Terjadi Khulu’, yaitu istrinya meminta cerai kepadanya dengan memberikan sejumlah uang atau materi.

-Kedua orang perantara menceraikannya, karena melihat tidak adanya kecocokan lagi di antara keduanya.

-Seorang suami menthalaq istrinya sebelum menggaulinya

-Thalaq tiga. Ia tidak boleh menikahinya, sampai istrinya menikah lagi dengan laki-laki lainnya.

d-Thalaq Raj’i, yaitu thalaq yang masih bisa diruju’ oleh suaminya; walaupun tanpa ridho istrinya.

e-Thalaq Sharih, yaitu thalaq yang tidak membutuhkan niat thalaq, karena lafadznya sudah jelas dan nyata.

f-Thalaq Kinayah, yaitu thalaq yang membutuhkan niat thalaq, karena lafadznya masih mengandung kemungkinan

g-Thalaq Munajjaz dan Mu’allaq. Munajjaz adalah thalaq yang lansung dijatuhkan di tempat atau pada waktu itu juga. Sedangkan Thalaq Mu’allaq adalah thalaq yang masih dikaitkan dengan sesuatu, baik perkataan, perbuatan, waktu dan sebagainya.

h-Thalaq Takhyir, yaitu thalaq yang memberikan pilihan kepada pihak perempuan antara berpisahnya dengannya atau tetap bersamanya.

i-Thalaq Wikalah dan Kitabah. Wikalah yaitu thalaq yang diwakilkan penyampaiannya kepada orang lain. Sedangkan Kitabah adalah thalaq yang disampaikan melalui tulisan, kemudian ditetapkan kepada pihak perempuan.

j-Thalaq Tahrim, yaitu seorang laki-kaki mengatakan kepada istrinya, “Engkau haram bagiku.” Hukumnya sesuai dengan niatnya. Jikalau niatnya adalah thalaq, maka hukumnya thalaq. Jikalau niatnya Zhihar, maka hukumnya Zhihar dan wajib menjalankan kafarat Zhihar. Dan jikalau niatnya sumpah, maka ia harus menjalankan kafarah sumpah.

Point Ketiga: Khulu’

Seorang istri membayarkan sejumlah materi atau uang kepada suaminya yang dibencinya, agar ia bisa melepaskan diri darinya. Hukumnya boleh-boleh saja selama syarat-syaratnya terpenuhi; sebagaimana kisah yang dialami oleh istri Tsabit bin Qais. Pada suatu hari, ia mengadukan suaminya kepada Rasulullah Saw seraya berkata:

“Wahai Rasulullah, saya tidak mencela akhlaknya dan tidak juga agamanya, akan tetapi saya membenci kekufuran dalam Islam.” Maka beliau bertanya kepadanya, “Apakah engkau akan mengembalikan kebunnya?” Ia menjawab, “ya.” Beliau berkata kepada suaminya, “Terimalah kebun itu dan thalaqlah dirinya.” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari]

Adapun syarat-syarat yang harus Anda perhatikan dalam khulu adalah:

a-Kebencian itu berasal dari istri.

b-Istri meminta khulu’, karena sudah merasa berbahaya.

c-Suami tidak melakukan tindakan zhalim itu dengan sengaja, agar istrinya meminta thalaq.

Point Keempat: Ila’

Pengertiannya, seorang suami bersumpah tidak akan menggauli istrinya lebih dari empat bulan. Hukumnya boleh-boleh saja; asalkan bertujuan untuk mendidik istri dan tidak boleh lebih dari empat bulan. Allah Swt berfirman:

“Kepada orang-orang yang meng-ilaa’ isterinya diberi tangguh empat bulan (lamanya). kemudian jika mereka kembali (kepada isterinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Al-Baqarah: 226]

Point Kelima: Zhihar

Pengertiannya, seorang suami mengatakan kepada istrinya, “Bagiku engkau seperti punggung ibuku.” Hukumnya haram berdasarkan firman Allah Swt:

“Orang-orang yang menzhihar isterinya di antara kamu, (menganggap isterinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan Ssesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” [Al-Mujadalah: 2]

Dan jikalau Anda melakukannya, maka Anda harus membayar kafarat seperti dijelaskan-Nya dalam ayat berikut ini:

“Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al-Mujadalah: 3]

Point Keenam: Li’an

Pengertiannya, seorang laki-laki menuduh istrinya berzina, atau tidak mengakui anak yang berada dalam kandungannya, sehingga masalah ini diperkarakan di hadapan hakim. Ia harus mendatangkan bukti sebanyak empat orang saksi. Jikalau tidak ada, maka ia harus bersumpah sebanyak empat kali dengan mengatakan, “Saya bersaksi dengan Allah Swt, bahwa saya melihatnya berzina.” Dan untuk kelimanya, ia mengucapkan, “Saya akan mendapatkan laknat Allah Swt jikalau berdusta.” Jikalau istrinya mengakui berzina, maka ia dihukum hadd. Jikalau tidak, maka istrinya itu harus bersumpah sebanyak empat kali dengan mengatakan, “Saya bersaksi dengan Allah Swt, bahwa ia tidak melihatku berzina.” Atau mengatakan, “Saya bersaksi dengan Allah Swt, bahwa anak yang berada dalam kandunganku ini adalah anaknya.” Dan untuk kelimanya, ia mengucapkan, “Saya akan mendapatkan laknat Allah Swt jikalau ia benar.” Kemudian hakim memisahkan keduanya, dan mereka tidak boleh lagi bersama selama-lamanya.

Hukum ini adalah dalam syariat Islam; sebagaimana firman Allah Swt dalam Al-Quran Al-Karim:

“Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya ia adalah termasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima  bahwa la’nat Allah atasnya, jika ia termasuk orang-orang yang berdusta. Istrinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas nama Allah sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta. Dan (sumpah) yang kelima bahwa laknat Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar.” [An-Nuur: 6-9]

Point Ketujuh: Iddah

Pengertiannya, masa menunggu seorang istri yang ditinggal oleh suaminya, baik karena thalaq maupun meninggal. Dalam masalah ini, ia tidak boleh menikah atau melakukan proses menuju pernikahan.

Hukumnya wajib berdasarkan firman Allah Swt:

“Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’.” [Al-Baqarah: 228]

Mengenai pembagian, maka ia terdiri dari beberapa jenis:

a-Perempuan yang dithalaq dan masih mengalami haid, Iddahnya selama tiga bulan. Dalam Al-Quran Al-Karim dijelaskan:

“Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’.” [Al-Baqarah: 228]

b-Perempuan yang dithalaq dan tidak mengalami haid, karena sudah tua atau masih kecil, maka Iddahnya selama tiga bulan. Allah Swt berfirman:

“Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid.” [Ath-Thalaq: 4]

c-Perempuan yang dithalaq dalam keadaan hamil, maka Iddahnya sampai melahirkan. Ini sesuai dengan firman Allah Swt:

“Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.” [Ath-Thalaq: 4]

d-Perempuan yang dithalaq dan masih haid, kemudian haidnya terputus karena sebab yang sudah diketahui, maka ia menunggu sampai terjadinya haid dan kemudian melakukan Iddah; walaupun waktunya lama.

e-Iddah perempuan yang ditinggal mati suaminya adalah empat bulan sepuluh hari; sebagaimana firman Allah Swt:

“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah Para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari.” [Al-Baqarah: 234]

f-Barangsiapa yang kehilangan suaminya dan tidak jelas keadaannya; apakah masih hidup atau tidak, maka ia harus menunggu selama empat tahun semenjak tidak ada kabarnya. Jikalau telah selesai, maka ia ber-Iddah selama empat bulan sepuluh hari.

About abuhafuza

masih belajar...

Posted on 5 Februari 2012, in Minhajul Muslimin and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: